Terkadang aku iri melihat kehidupan teman-teman bahkan saudara-saudaraku. Mereka punya kehidupan yang indah. Mereka dapat menggapai apapun yang mereka mau, apalagi dalam hal materi dan cinta. Tapi aku cuman bisa melihat tanpa ikut merasakan kebahagiaan mereka. Aku ingin memiliki hidup yang indah seperti mereka, seindah namaku, Pelangi.
Menurut kedua orangtuaku, aku adalah anak perempuan yang dinanti-nantikan selama 10 tahun pernikahan mereka. Seperti menantikan pelangi sehabis hujan kata mereka. Namun, bukan berarti aku nggak punya saudara. Aku punya dua saudara dan kedua-duanya berjenis kelamin laki-laki. Usia mereka terpaut cukup jauh dariku.Kakak pertamaku berusia 10 tahun lebih tua dari aku, sedangkan kakakku yang kedua berusia 8 tahun lebih tua dariku.
Sebagai anak perempuan satu-satunya, orangtua serta kakak-kakakku sangat menyayangiku. Itulah sebabnya aku tumbuh subur seperti ini. Seperti tanaman yang dipupuk setiap 2 jam sekali. Aku bersyukur karena perhatian yang mereka berikan amat melimpah. Namun, di samping semua itu, aku sangat membenci keadaan diriku yang tumbuh subur seperti ini. Penampilan fisik ini membuat aku dijauhi oleh kaum lelaki.
Aku sering sekali membaca buku dan menonton drama percintaan yang bercerita tentang keajaiban cinta. Hampir semuanya berkisah tentang pangeran yang tampan dan putri yang jelek. Namun kenyataannya aku belum menemukan hal itu dalam dunia nyata, terutama kehidupan pribadiku.
Sekarang aku berusia 18 tahun dan baru saja masuk ke sebuah universitas swasta terkemuka di kotaku. Aku bertemu dengan banyak sekali orang-orang baru. Aku mengenal banyak orang dengan kepribadian yang berbeda-beda dan belum pernah aku temui sebelumnya. Aku mulai menjalin persahabatan dengan mereka, untungnya aku gampang menyesuaikan diri dengan lingkunganku yang baru.
Aku bergabung dalam sebuah geng yang bernama “PLACe”, yang merupakan singkatan dari Pelangi, Lita, Andrea dan Celine. Di antara kami berempat hanya aku yang belum punya pacar. Lita dan Andrea sudah bertunangan, sedangkan Celine baru saja jadian dengan cinta pertamanya. Aku merasa minder kalo mereka sedang membicarakan pacarnya masing-masing. Aku hanya bisa ikut tertawa kalo mereka cerita tentang kelakuan nakal mereka bersama sang pacar.
Untungnya aku masih punya sahabat baik semasa SMA yang sama-sama jomblo. Seringkali aku mengajaknya jalan-jalan kalo LACe lagi jalan bareng pacarnya masing-masing.
Tapi, sejak beberapa hari yang lalu ia mulai disibukkan dengan aktivitas-aktivitas kuliah juga pekerjaan sampingannya sebagai guru les. Ia selalu menghabiskan akhir pekannya bersama keluarga kalo nggak melakukan pekerjaannya sebagai guru les. Pada akhirnya aku harus sendirian di rumah.
Kedua kakakku sudah menikah dan punya tempat tinggal sendiri. Sekarang aku hanya tinggal bertiga dengan kedua orangtuaku. Namun mereka selalu saja sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan baru pulang ke rumah sekitar pukul 7 malam. Setiap hari aku selalu merasa kesepian tinggal di rumah sendirian. Aku sama sekali nggak punya teman bicara, selain laptop dan handphoneku. Aku hanya bisa bertemu keluargaku secara utuh di setiap akhir pekan.
Sepulang kuliah hal yang biasanya aku kerjakan adalah tidur, kemudian mengerjakan tugas setelah itu aku browsing internet sampai malam hari. Itulah rutinitasku sehari-hari. Aku jadi bosen dengan kehidupanku. No boys, no love, and no attention. Aku sangat benci dengan hal itu.
Hal yang selalu aku idam-idamkan adalah punya pacar di sampingku yang bisa menemaniku setidaknya selam 12 jam setiap harinya. Aku pengen punya pacar yang setia mendengarkan segala keluh kesahku. Aku pengen punya pacar yang bisa melindungi aku. Aku pengen punya pacar yang selalu kasih perhatian lebih ke aku. Aku pengen punya pacar yang selalu peduli dengan apa yang aku lakukan. Tapi sayangnya Tuhan belum memberikan aku seorang kekasih, satupun.
Aku merasa sendiri dan terkucilkan. Aku merasa nggak satupun orang peduli akan apa yang terjadi dalam hidupku. Aku nggak tahu mesti gimana lagi. Aku benci jadi diriku yang sekarang ini, dari dulu nggak pernah merasakan apa yang namanya cinta.
Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya saat aku masih duduk di bangku kelas 6 SD. Aku suka sama salah satu temanku. Aku jatuh cinta padanya karena aku merasa dia baik, pintar dan taat beribadah. Namun sayang, perasaanku nggak berbalas, bahkan ia sangat membenciku. Aku tahu apa yang sudah aku lakukan salah, aku telah berbohong atas namanya, tapi saat itu aku merasa nggak mau kalah sama cerita temen-temenku yang mulai ditaksir sama cowok-cowok seusiaku. Meskipun aku sudah menanti jawabannya selama 3 tahun, tapi perasaannya tak juga berubah.
Aku merasakan jatuh cinta yang kedua kalinya saat aku mengikuti sebuah kegiatan rohani di luar kota. Aku menemukan sosok pria yang baik, supel, beriman dan rendah hati. Meskipun kita baru kenal tapi dia sudah begitu ramah kepadaku. Aku bangga sempat mengenal orang seperti itu. Selain itu dia adalah orang yang humoris dan periang. Hal yang paling aku sukai adalah kekompakannya bersama teman-teman satu gengnya. Aku sempat menjalin komunikasi dengannya, tapi berakhir begitu saja tanpa alasan yang jelas.
Perasaan cinta kembali muncul saat aku masuk SMA. Aku jatuh cinta pada salah satu anggota OSIS, kakak pembina kelompokku lebih tepatnya. Ia terlihat tampan, murah senyum, baik hati dan pintar. Hal yang membuat aku lebih jatuh hati lagi karena senyumannya yang begitu menyejukkan jiwa. Entah kenapa setiap kali melihatnya tersenyum, aku merasa semua bebanku hilang. Aku sempat menantinya selama 2 tahun, hingga kesempatan itu datang.
Sahabat baikku membuat sebuah pertemuan dengannya, bisa dibilang dicomblangin tapi sama orang yang aku cintai. Aku sempat mengira ia akan bersikap ramah kepadaku, tapi nyatanya, berbeda 180 derajat dari apa yang aku pikirkan. Dia sama sekali tidak menganggap keberadaanku. Dia hanya mau berbicara dengan sahabatku. Aku benar-benar merasakan sakit hati yang luar biasa saat itu. Demi bertemu dengannya, aku rela melakukan diet ketat selam dua minggu, hingga berat badanku turun hingga 6 kg. Namun semua itu terasa nggak berarti buat dia. Bahkan pandangannya terhadapku terlihat sangat hina. Aku nggak tahu apa yang sebenarnya ia pikirkan tapi hal inilah yang sempat membuatku patah semangat.
Tuhan masih berbaik hati kepadaku, dia masih mengirimkan teman-teman yang nggak pernah lelah menghibur aku serta guru-guru yang perhatian dan mau membantuku meraih prestasi. Tuhan juga mengirimkan beberapa orang yang selalu setia mendengarkan curahan hatiku. Aku sangat bersyukur atas semuanya itu.
Tapi, dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku masih menunggu separuh jiwaku yang akan Tuhan berikan pada setiap insan. Aku berharap menemukan Adam-ku, pasangan abadiku yang sudah Tuhan siapkan. Aku lelah hidup sendiri di dunia ini tanpa tempat bersandar.
Saat aku akan jatuh cinta, aku harap dialah yang terakhir dalam hidupku. Dialah yang akan menemaniku samapi aku beristirahat di kediaman abadi. Dialah yang mengisi kekosongan hatiku, dan dialah yang akan menutup lembaran lama yang semu untuk memulai lembaran baru yang abadi. Inilah aku, menanti pelangi sehabis hujan.
{October 16, 2009} Pelangi Sehabis Hujan